seperti biasa, aQ terdiam seribu bahasa saat seorang laki-laki memintaQ menjadi bagian dari hidupnya. aku ingin... sangat ingin sekali... tapi keinginan itu akan segera musnah saat aku sadar, aku bukanlah wanita dengan fisik sempurna seperti wanita-wanita lainnya. wajahku tidak terlalu mengecewakan, aku bekerja keras untuk kehidupanku sehari-hari, tapi bukan berarti aku kekurangan. aku dan adik-adikku cukup. mungkin bisa dibilang seperti itu... tapi, kekurangan fisik yang tidak pernah orang lain lihat ini membuatku mengukuhkan kkeputusan untuk mundur dan mempersilahkan laki-llaki itu mencari wanita lain yang lebih baik.
aku menghembuskan nafas kuat-kuat. mencoba mengusir seluruh keraguan dihatiku. aku harus bisa berterus terang, menolak laki-laki itu dengan halus.. dengan harapan laki-laki (yang sebenarnya ingin sekali kujadikan imamku) itu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dan sempurna tentunya. (bukan sempurna sekali, karena kesempurnaan hanya milik Allah). sakit hati... tapi aku sudah hafal bagaimana rasa sakit ini, dia akan segera menghilang setelah beberapa hari kemudian.
setiap melihat wajah mereka, aku tau dalam hati mereka pasti sangat kecewa. mungkin beberapa merasa aku mempermainkan mereka. tapi aku yakin, rasa sakit hati mereka akan terobati dengan hadirnya pendamping yang mungkin jauh lebih baik daripada aku. sambil terus kulantunkan do'a, suatu saat nanti.. ada laki-laki yang benar-benar mencintaiku karna Allah.. yang bisa menerima semua kekuranganQ..
------------------------
14 tahun yang lalu, saat masih menempuh bangku sekolah mennengah pertama aku sempat menderita cacar air. hal yang sampai saat ini menjadi kambing hitam atas semua keminderann yang ku alami. aku baru tahu, kalau jjaringan kulit bisa membentuk parut dan menyebabkan rasa sakit. jaringan kulit tepat dibekas cacarku mulai membesar dan menebal beberapa cm. hal yang membuatku memantapkan hati untuk tidak tertarik pada laki-laki. karena aku tau hal itu bisa melukai perasaanku.
tapi betapa naifnya aku, sebesar apapun aku berusaha untuk menghindari perasaan itu, dia tetap lancang memasuki hatiku tanpa mengetuk terlebih dahulu. aku mengagumi makhluk Allah berbadan tegap dan berjakun berkali-kali, dan harus membuang perasaan tersebut berkali-kali pula, sebelum dia benar-benar menghuni dadaku.
suatu hari aku mencoba berobat, karena jaringan parut yang biasa disebut keloid itu sebenarnya bisa disamarkan meskipun tidak 100% hilang. tapi pengobatan yang sedikit menyakitkan dan sangat membuat frustasi membuatku mundur.
banyak orang bilang aku terlalu sulit didekati. beberapa laki-laki mundur saat melihatku bekerja terlalu keras, mereka merasa minder saat aku mengungkapkan keinginan besarku menjadi pengusaha sukses dan mensukseskan orang2 didekatku. aku bersyukur... setidaknya aku tidak perlu repot menolak mereka karen ketidak sempurnaanku.
terlalu sering aku menangis disepertiga malamku. kadang begitu inginnya aku memiliki laki-laki yang bisa membimbingku, laki-laki yang bisa menerimaku dan juga kekuranganku. tapi harapan itu selalu kuputus... karena aku memang benar-benar tidak berani berharap.
-------------------------------
laki-laki itu menatapku tajam. menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutku. ya Rabb, betapa inginnya aQ menganggukkan kepalaku, menjadikan dia imamku.. tapi betapa tidak tau dirinya aku jika dengan tanpa rasa bersalah menerima pinangannya. aku akan mengecewakannya saat dia benar-benar sudah menjadi suamiku... air mataku rasanya ingin tumpah. tapi tekat bulatku untuk menjelaskan alasanku menolaknya menahannya.
"Ra, .. kenapa diam?". laki-laki itu masih duduk dengan tenang didepanku, dilayar komputerku. kuberanikan diri menatapnya. dengan hati-hati aku mencoba menjelaskan.
"maaf sebelumnya.. mas Ilman, Ira nggak bisa nerima tawaran mas Ilman...". jawabku pelan. alis mas Ilman bertemu. aku menunduk, memainkan jemariku resah. "bukan karena mas Ilman bukan calon imam yang baik, tapi... Ira lah yang punya banyak kekurangan.. Ira rasa mas Ilman lebih pantas dengan perempuan yang nggak hanya baik hatinya, tapi juga sempurna fisiknya...".
"maksud kamu apa Ra?, menurut mas Ira sempurna... Ira calon ibu yang baik untuk anak-anak mas nanti, insyaallah..". mas Ilman terlihat bingung. aku sibuk menata hati. ingin rasanya mematikan komputer untuk mengakhiri obrolan dan mulai menangis lagi. tapi perlahan aku berusaha menjelaskan pada mas Ilman, berharap dia mengerti. terhitung dari saat ini aku harus sudah mulai mensterilkan hatiku kembali. dan aku yakin suatu saat nanti Allah akan mengganti mas Ilman dengan laki-laki yang mencintaiku juga menerima kekuranganku.
mas Ilman terdiam, wajahnya terlihat berubah, kali ini sedikit muram. banyak perempuan sholeha di tempatnya belajar disana, perempuan-pperempuan cantik dan tentunya pintar. mas Ilman akan segera mendapatkan gantinya.
"sekali lagi Ira minta maaf mas... Ira pamit dulu... Assalamualaikum..". aku mengakhiri pembicaraan. setelah mas Ilman menjawab salam segera kumatikan koputer dengan hati yang tidak bisa kuartikan rasanya. mungkin mas Ilman bukan jodohku... seperti laki-laki lain sebelumnya...
--------------------
4 bulan kemudian
"Iraa... Iraa..". suara mbak Ratih terdengar terburu-buru memanggilku. aku segera mengambil jilab instan dari dalam lemari, kemudian memakainya dan berlari keluar kamar. mbak Rati terlihat sumringah didepan kamar, sambil menggendong Azzam ponakanku.
"ada apa mbak?". tanyaku bingung. mbak Ratih tersenyum kemudian memelukku erat-erat. aku benar-benar bingung. mbak Ratih segera menarikku kedalam kamar, kemudian menyuruhku mengganti daster lengan panjangku dengan gamis. aku menurutinya masih sambil bertanya-tanya. setelah itu mbak Ratih mengajakku keluar menuju ruang tamu.
betapa kagetnya aku saat ku lihat mas Ilman tersenyum cerah melihatku, dua orang yang terlihat jauh lebih tua duduk disampingnya, dengan wajah sumringah juga.
"mas Ilman?". tanyaku ragu-ragu. mas Ilman mengangguk mantap.
"Ira mau jadi istri mas Ilman?". katanya masih dengan senyumannya. aku sungguh terkejut mendengar pertanyaan itu lagi. bukannya saat itu sudah kujelaskan alasanku menolaknya?, atau mas Ilman tidak mmendengarkkan penjelasanku dengan seksama?.
"tapi waktu itu Ira udah jelasin sama mas kan? ". tanyaku meyakinkan. Ilman masih tersenyum. mbak Ratih menyuruhku duduk.
"mas ingin menikah dengan Ira bukan hanya karena fisik.. mas sengaja pulang ke Indonesia lebih cepat biar Ira tau kalau mas benar-benar serius.. ". kata mas Ilman tegas. " mas ingin Ira yang jadi ibu dari anak-anak mas nanti... Ira mau?". aku menunduk haru. diam-diam sangat bersyukur dalam hati. inikah laki-laki yang kau kirimkan untukku ya Rabb??, air mataku mulai menetes. kupeluk mbak Rati erat-erat sambil mengucap kalimat tasbih berkali-kali.
"gimana Ra?". tiba-tiba mas Heru suami mbak Ratih bertanya. dengan masih terharu aku mengangguk pelang.
"Subhanallah... Ira...". mbak Ratih menangis haru, diciumnya keningku hangat. mbak Ratih terlihat begitu bahagia, begitu juga kedua orang tua mas Ilman.
Terimakasih Rabb, aku yakin, hari ini pasti datang... kau pilihkan aku laki-laki sholeh untuk menjadi imamku. laki-laki yang tidak hanya mencintai fisikku, laki-laki yang mencintaiMu dan bisa membimbingku menjadi lebih baik.
terimakasih sudah menjadikanku wanita sempurna untukmu, meskipun tubuhku tidak sesempurna wanita lain.. :)
kidung do'aku
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar