4
Pagi ini sangat cerah, angin bertiup
menghela rambut lembut Aby yang sedang terburu-buru mengayuh sepeda. Baru saja
dia selesai mengantarkan pesanan kue untuk pelanggan mama disekitar tempat mama
berjualan ceker pedas, Aby langsung memutar balik sepedanya agar tidak
terlambat bekerja. Masih ada sepotong kue dimulutnya, Aby sengaja memintanya
satu dari mama karena dia tidak sempat sarapan.
Ini hari kelimanya bekerja dirumah
bu Alya, dia tidak ingin terlambat dan mengecewakan majikannya yang baik hati
itu. Tapi sepertinya keberuntungan tidak berpihak pada Aby, tiba-tiba sepedanya
oleng. Aby berusaha menyeimbangkan sepedanya agar ia tidak jatuh, tapi usahanya
sia-sia. Ia menabrak trotoar kemudian jatuh terguling kearah jalan.
BRAKKK!!, siku Aby terbentur aspal jalan
sedikit keras, Aby meringis kesakitan sambil memegangi sikunya. Melihat
sepedanya tergeletak ia cepat-cepat bangun dan menegakkan sepeda butut itu
panik.
“sepeda
gue…. Pliss..pliss.. jangan rusak… “. ucapnya pada diri sendiri sambil terus
memeriksa sepeda tersebut. Kemudian matanya tertuju pada ban depan yang
ternyata kempes.
“hhhh….
Pantes gue jatuh, gue ngayuhnya terlalu kenceng padahal bannya kempes…”. Aby
monyong, seketika keceriaannya hilang sudah. Tidak ada waktu lagi untuk
menambal bannya, ia harus segera pergi bekerja karena sudah terlalu siang.
Sambil menuntun sepedanya Aby jadi ingat pemuda yang pernah ditemuinya dijalan
ini kemarin, pemuda itu juga marah-marah karena ban mobil mewahnya bocor.
Mungkin dia juga merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan Aby sekarang. Diam-diam Aby menyesal tidak
membantu pemuda tersebut, ia malah lari gara-gara malu.
Tergesa-gesa Aby memasuki gerbang
rumah majikannya, ia terlambat satu jam, perasaannya kacau balau. Ia takut bu Alya akan
memarahinya seperti bosnya di restaurant dulu. Panggilan kang Paidi yang tampak
khawatir tidak didengarnya, Aby terus saja nyelonong masuk, memarkirkan
sepedanya kemudian berlari ke arah dapur.
“mbak
Ami… maaf saya telat..”. kata Aby takut-takut dibalik pintu dapur. Mbak Ami
terlihat khawatir menatap Aby, Aby segera masuk dapur pelan-pelan, tapi
alangkah kagetnya dia setelah melihat pemuda yang berdiri disamping mbak Ami. Pemuda itu memakai celana
pendek dan kaos oblong putih, ditangannya ada secangkir kopi susu yang masih
hangat. Dia pemuda semalam yang sempat mengiranya gila, pemuda yang ban
mobilnya bocor berkali-kali dijalan tempat ban sepedanya bocor juga itu. Tapi
pemuda itu sama sekali tidak terlihat kaget, ia seolah-olah tidak pernah
bertemu dengan Aby sama sekali.
“ini
yang mbak bilang kemaren?”, kata pemuda itu pada mbak Amy datar.
“iya
mas Darren.. “. Jawab mbak Ami takut-takut. ia takut Darren akan memarahi Aby,
karena dia tau Darren paling tidak suka orang yang tidak disiplin pada
pekerjaannya. Diam-diam mbak Ami melirik siku Aby, ada garis panjang disana
yang masih mengeluarkan darah, tapi dia tidak berani berkomentar.
“maaf
mas, saya telat…”, ucap Aby pelan. Mbak Ami segera menggandeng tang Aby hangat.
“Aby,
ini mas Darren, cucunya bu Alya..”. ucap mbak Ami lagi. Aby mengangguk. “ya Tuhan… ternyata orang ini majikan gue??,
gimana ini?. Aby memainkan jarinya cemas.
“loe
tau ini jam berapa?”. Tanya Darren masih dingin, Aby mengangguk gelisah.
“iya
mas… tadi ban saya bocor”. Ucapnya lagi pelan. Darren meletakkan cangkir
kopinya di meja, kemudian melangkah
mendekati Aby dan mbak Ami, ditariknya Aby keluar dapur menuju ruang tengah.
Aby meringis kesakitan tapi tidak berani bicara.
“duduk
loe..”. perintah Darren padanya. Gadis itu segera duduk disebuah sofa masih
kesakitan. Darren membuka sebuah laci kemudian mengeluarkan alcohol, kapas dan
obat.
“mana
sepeda loe?”. Tanyanya pada Aby singkat. Mbak Ami terlihat mengintip dari
sebelah.
“di
garasi mas..”. Aby masih tegang. Darren
menyerahkan obat-obatan yang diambilnya pada Aby.
“nih,
obatin luka loe… kalo infeksi bahaya”. Lagi-lagi Aby hanya bisa mengangguk,
entah kenapa orang ini selalu membuatnya tidak bisa bicara. Auranya terlihat
begitu menakutkan bagi gadis itu. Sementara Darren pergi entah kemana.
……………………………………………..…
“ati-ati
dong By… ko bisa sampai kaya gini sih tangannya?”. Mbak Ami duduk disebelah Aby
sambil membersihkan luka gadis itu. Aby nyengir nggak jelas, sikunya masih
terasa sakit.
“nggak
tau mbak, tiba-tiba bannya bocor.. “. Jawab Aby pelan. Padahal nanti malam dia
sudah mulai kerja direstoran Juno, tapi tangannya malah cedera.
“untung
tadi mas Darren nggak marah By… biasanya kalau ada yang nggak disiplin mas
Darren langsung nggak enak ngomongnya..”.
“aku
sendiri juga takut dimarahin tadi mbak, mas itu serem..”. Aby mengedikkan
bahunya membayangkan wajah Darren. Entah karena dia takut atau memang wajah
laki-laki itu yang menyeramkan?, Aby sama sekali tidak ingin berurusan dengan
cucu majikannya itu.
“hahaha…
ya nggak serem-serem amat sih.. kalau kita nggak salah ya dia nggak mungkin
kayak gitu”. Mbak Ami memberi obat pada luka Aby dengan kapas, kemudian
memasukkan botol-botol obat itu kedalam laci.
“makasih
ya mbak..”. ucap Aby dengan wajah memelas tapi penuh terimakasih. Mbak Ami
tersenyum tulus.
“iya
sama-sama.. ayok cepet kerja, bu Alya hari ini ke Singapore, jadi aku bisa
bantuin kamu sama mbak saro bersih-bersih rumah, hehehe.. ”. mbak Ami terlihat
berbinar-binar.
“trus..
mas Darren siapa yang masakin mbak?, ih.. mbak Ami pasti lupa deh..”. saut Aby
sambil mendorong-dorong lengan Ami dengan ibu jarinya.
“kalau
mas Darren sih nggak usah dimasakin By, percuma dimasakin, pasti Cuma makan mie
instan kalau bu Alya nggak ada”. Mata Aby membulat. Cowok aneh, yang Cuma bisa
makan mie instan aja kpingin makan yang enak-enak, ini yang dirumahnya tiap
hari disediain makanan enak malah hobby makan mie instan. Ck..ck..ck..
“hhh…
cowok aneh..”. sungut Aby.
“apa
loe bilang??, gue aneh?”. Tiba-tiba Darren berdiri disamping Aby, mata elangnya
terlihat sinis, alis tebalnya bertaut heran. Seketika Aby dan mbak Ami
cengingisan dengan wajah nggak jelas, tanpa menjawab pertanyaan Darren ia
buru-buru berlalu ke dapur ketakutan.
“permisi
mas, kita kedapur dulu.. mari..”. kata
mbak Ami, dengan cepat ia mengikuti langkah Aby yang super cepat dan mirip gaya
jalan bebek saking nervousnya.
……………………………………….
Aby meregangkan badannya sesaat,
berjalan kearah kulkas dan mengambil segelas air dingin kemudian meminumnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, dapur terasa sepi sekali. Setelah
menghabiskan minumannya ia segera mencuci gelas dan menghampiri ruang TV
berukuran tiga kali empat yang sengaja dibangun disamping kamar mbak Ami dan
mbak Saro agar mereka tidak terlalu jauh jika ingin melihat TV.
Rumah ini sangat luas, terdiri dari
delapan kamar tidur, ruang tamu yang luas dan minimalis, ruang keluarga dengan
TV yang besarnya lima kali lipat TV dirumah Aby, perpustakaan keluarga, dapur,
kolam renang, garasi dengan tiga mobil dan taman yang sangat luas dibelakang
rumah dengan beberapa gazebo.tapi sayang, pemilik rumahnya justru jarang berada
disini. Bu Alya lebih sering ke Singapura menjenguk kakak laki-laki
satu-satunya yang sudah sepuh, sedangkan Darren sibuk dengan pekerjaannya.
Mbak Saro duduk di depan TV dengan
serius, rambutnya yang keriting panjang tidak mampu menutupi pundaknya yang
bergerak naik turun, terdengar isakan kecil dari bibirnya, beberapa kali ia
sempat mengambil tisu kemudian mengelapkannya dihidung dan membuangnya ketempat
sampah. Aby khawatir, cepat-cepat dihampirinya mbak Saro, kemudian diusapnya
bahu mbak Saro dengan lembut.
“mbak,
mbak Saro kenapa?, ada masalah?, mbak bisa cerita sama Aby..”. kata Aby masih
cemas. Beberapa detik kemudian mbak Saro memutar kepalanya kebelakang menghadap
kearah Aby.
“mbah
itu By… kasian banget yah hidupnya, udah tua masih nyari duit buat
cucu-cucunya… huuuaaa….”. tangis mbak Saro pecah, wajahnya jadi jelek banget,
bener-bener mirip tukang sihir. Aby segera mengalihkan pandangannya kearah TV
yang ternyata sedang menayangkan sebuah program reality tentang seorang nenek
yang bekerja sendirian tanpa bantuan anak-anaknya demi menghidupi cucu-cucunya.
Aby menarik nafas dalam-dalam, kemudian tertawa kecil sambil memeluk mbak Saro.
Dia baru tau kalau teman kerjanya itu ternyata gampang sekali tersentuh.
“Aby
kirain kenapa mbak?, hahahaha…”. Tawa Aby akhirnya pecah. Mbak Saro jadi malu
dan segera mengganti chanel TVnya.
“
kamu kok malah ketawa sih?, orang lagi terharu emang nggak boleh?”. Sungut mbak
Saro kemudian.
“ya
lagian mbak Saro lebay banget… hahaha..”. Aby masih tertawa ingat ekspresi mbak
Saro beberapa menit tadi. Tiba-tiba mbak Saro ikutan tertawa menyadari
kekonyolannya tadi. Aby jadi ingat sosok mamanya yang gampang sekali terharu,
persis seperti mbak Saro.
“kamu
mau pulang By?”. Tanya mbak Saro kemudian.
“iya
mbak, udah jam segini.. masih ada kerjaan ditempat lain”.
“rajin
bener neng?, kaya udah punya anak sepuluh aja.. haha”. canda mbak Saro sambil
mencomot nastar dari dalam toples kecil.
“anaknya
sih nggak ada, tapi utangnya dimana-mana..hahaha”. Aby ikutan tertawa,
menertawai hidupnya sendiri.
“yaudah
mbak, Aby pulang dulu… mau nambalin ban sepeda dulu soalnya”. Aby segera
berjalan kearah garasi setelah mengambil dua potong nastar didepan mbak Saro.
“ati-ati
By, jangan dikempesin lagi bannya.. hehehe”. Mbak Saro tertawa usil. Aby
merengut heran.
“belum
ditambalin, masak mau dikempesin lagi mbak?? Ada-ada ajah mbak Saro..”. sungut
Aby.
“udah..
nggak usah ditambalin, udah sembuh bannya..”. mbak Saro teriak-teriak agar Aby
yang sudah melangkah jauh masih bisa mendengarnya.
“apa??,
siapa yang nambalin mbak??”. Aby cepat-cepat kembali kearah mbak Saro.
Perempuan kurus itu tertawa mencurigakan.
“mas
Darren tadi yang nuntun ke tempat tambal ban didepan”. Aby kaget, tidak bisa
membayangkan cucu majikannya itu berjalan sambil menuntun sepedanya ke tukang
tambal ban. Tapi dalam hati dia takjub dan amat berterima kasih sekali. Karena
itu artinya Aby bisa segera berangkat ke restaurant keluarga Juno tanpa
tergesa-gesa.
……………………………………………






1 komentar:
Casino (Dune, India) - Mapyro
Casino (Dune, India). 부천 출장샵 Address: 90901 Quigley Road, Quigley, India. 광양 출장샵 Phone: 청주 출장샵 +44 1162 1657, 안양 출장안마 India. Contact 광주 출장마사지 Details. Casino (Dune, India)
Posting Komentar