3
“sssttt…
Aby… “, suara mbak Ami sedikit berbisik dari balik pintu dapur. Aby yang sedang
membersihkan meja makan segera menyelesaikan pekerjaannya kemudian membawa
tumpukan piring kebelakang.
Hari
ini rumah bu Alya ramai sekali, kata pak Agus Darren mengundang relasi
bisnisnya untuk makan malam. Tapi dari awal acara sampai akhir acara ia sama
sekali tidak tau bagaimana wajah Darren yang sesungguhnya. Ia hanya mendengar dari
beberapa tamu yang tampaknya pengusaha wanita itu bahwa Darren tampan. Bahkan
dirumah sebesar ini, foto Darren dewasapun sama sekali tidak terpampang, hanya
foto-fotonya semasa kecil dengan kedua orang tua dan nenek kakeknya.
“ada
apa mbak?”. Tanya Aby setelah sampai didapur. Mbak Ami menarik lengan Aby ke
sudut dapur. Disana sudah ada beberapa buntalan mika lauk sisa acara tadi.
“ini..
kamu bawa pulang yah… buat oleh-oleh ibu sama adek kamu “. Kata mbak Ami
semangat. Aby menatap beberapa mika itu, ada cumi asam manis, udang balado, sate,
mata Aby berbinar-binar.
“
ini beneran mbak Ami?, kalo dimarain bu Alya ato pak Darren gimana?”.tanya Aby
lagi.
“udah
dibawa ajah, lagian disini juga nggak ada yang makan kok By, bu Alya nggak
mungkin marah”. Tiba-tiba mbak Saro muncul. “ pak Agus juga dibungkusin kok.. kalo kita kan nggak ada
yang pulang, rumahnya jauh-jauh, hahaha”. Saroh terkekeh. Aby benar-benar
senang, ia membayangkan bagaimana ekspresi senang ibu dan adiknya saat melihat
beberapa makanan yang dia bawa.
“makasih
ya mbak Ami….”. kata Aby lagi sambil memeluk Ami bahagia. Saroh kembali
terkekeh melihat tingkah Aby, diikuti pak Agus yang baru masuk dapur.
………………………………………………………..
Aby menyusuri jalan yang biasa dia
lewati setiap hari. Pukul 22.30, sebentar lagi dia akan sampai dilapak ceker
pedas ibunya. Hari ini dia benar-benar lelah, pinggangnya terasa mau rontok.
Harusnya dia sudah pulang jam 17.30 tadi, tapi karena Darren mengadakan acara
makan malam, Aby harus pulang sampai selarut ini.
Lantunan lagu dan kamu milik D’masiv
terdengar samar-samar dari dalam tas Aby. Aby cepat-cepat membuka resleting
tasnya dan mulai mengorek-ngorek isinya mencari handphone yang nggak tau nyelip
disebelah mana. Setelah ketemu dia segera menatap layar hp.
“halo
No, ada apa?”. Tanya Aby setelah tau siapa yang menelfonnya.
“gimana
kabar loe By?”. Tanya Juno ceria. Aby menghembuskan nafas dalam.
“baik
No, ini gue baru pulang kerja.. loe gimana kabar?”. Jawabnya sambil terus
melangkah.
“
gue baik juga… kerja dimana loe sekarang?”.
“jadi
pembantu rumah tangga gue.. hahahaha… “. Aby sedikit malu pada Juno, tapi ya
sudahlah.. memang benar sekarang dia jadi pembantu rumah tangga. Juno terkekeh.
“gue
ada tawaran kerja buat loe di restoran mami, Cuma 4 jam sehari, dari jam tujuh
sampai jam sepuluh malam, dan Cuma 3 bulan aja. tertarik ga?”. Kata Juno tanpa basa-basi.
Mata Aby membulat.
“
yang bener No?, gue mau… gue lagi butuh kerjaan sampingan No..”. jawab Aby
semangat. Semakin banyak sumber pendapatannya, semakin banyak juga uang yang
bisa dia kumpulkan.
“tapi
gajinya ga banyak By, ini kebetulan salah satu karyawan mami bagian Delivery
tiga bulan ini Cuma bisa kerja sampai jam enam aja, jadi butuh orang buat
gantiin dia”. Jawab Juno lagi.
“
gapapa… gue mau No..”
“oke
kalo gitu, besok gue tunggu yah direstoran mami, see u by.. ”. Juno menutup telphonenya.
“yess!!”.
Aby mengepalkan tangannya keudara. “ gue dapet kerjaan sampingan…!!”. Teriaknya
senang sambil loncat-loncat ga karuan. Aby membuat gerakan-gerakan aneh,
kemudian menari ala gangnam stile, “ elo..elo..elo… harus joget sama gue!”,
katanya sambil menunjuk pohon sono, tiang listrik dan tempat duduk pinggir
jalan seolah-olah sedang berbicara pada manusia. Sangking gembiranya tanpa
disadari seorang laki-laki berdiri disampingnya dengan tatapan sangat aneh.
“loe
nggak gila kan?”. Kata pemuda itu masih dengan tatapan heran. Ban mobilnya
sedang bocor, dan dia melihat perempuan cantik teriak-teriak sambil joget
dengan gerakan aneh didekat mobilnya. Aby diam seketika, wajahnya memerah
karena malu.
“loe
siapa?, tadi bukannya disini sepi yah?, kenapa tiba-tiba ada loe?”. Katanya
masih malu-malu. Laki-laki itu terlihat begitu dingin, raut wajahnya menunjukkan
ekspresi keheranan.
“ban
mobil gue bocor, dan loe nari-nari nggak jelas dideket mobil gue”. Kata
laki-laki itu masih datar. Aby nyengir kuda.
“sorry
gue nggak tau, ada yang bisa gue bantu?, kebetulan rumah gue nggak jauh dari
sini”. Tawar Aby hati-hati. Laki-laki itu menutup wajahnya dengan tangan sambil
menghela nafas dalam-dalam.
“ada,
bilang sama orang-orang disekitar kampung loe ini, kalo mau cari duit harus
usaha.. jangan Cuma nyebarin ranjau paku dimana-mana dan berharap dapat duit
karena banyak ban yang bocor!”. Jawabnya sedikit sebal. Bagaimana tidak?, sudah
enam kali bannya bocor disepanjang jalan ini. Dia juga gagal melamar gadis
pujaannya karena bannya bocor disekitar jalan ini. Dan sekarang, setelah
mengantarkan salah satu kliennya kembali ke hotel bannya kembali bocor, masih
di jalan ini. Kesabarannya sudah habis..
Aby syok, dia tidak tau apa-apa dan
laki-laki ini tiba-tiba marah padanya karena ban mobilnya bocor. Hellooo… ini
jalan panjang banget, dan bukan hanya masyarakat kampung Aby yang lalu lalang
dijalan ini. Bukan berarti jalannya dekat dengan kampung Aby terus laki-laki
itu seenaknya saja nuduh warga sekitar sini pelakunya. Bisa saja ranjau paku
itu dibawa kucing yang lagi transmigrasi dari kampungnya kesini atau bisa juga
ada truk paku yang lewat terus ga tau kalo pakunya jatuh-jatuh dijalan. Aby
ikutan kesal, tanpa babibu dia langsung pergi meninggalkan laki-laki itu.
“tunggu..
loe bilang loe mau nolong gue??”. Tanya laki-laki itu dengan suara sedikit
merendah. Aby menatapnya malas, ia membayangkan menginjak kaki laki-laki itu
dengan keras hingga laki-laki itu menunduk, kemudian ditendangnya laki-laki itu
dengan mode slow motion menggunakan lutut. diputarnya kepala lawannya persis
seperti gerakan Vicky zou lagi ngaduk adonan bakpao di film kungfu socher
kemudian melemparnya ketepi jalan.
“hahahahaha..”.
Aby tertawa terpingkal-pingkal tanpa sadar, sementara laki-laki didepannya semakin
heran.
“loe
bener-bener nggak gila kan??”. Pertanyaan itu keluar lagi dari mulutnya. Aby
salah tingkah, karena malu, tanpa berpikir panjang dia segera pergi menjauh.
Jalan sangat sepi, laki-laki itu masih memanggilnya dari jauh, tapi ia tidak
perduli, otaknya sedang tidak bisa bersahabat hari ini.
Laki-laki itu menendang ban mobil
mewahnya keras-keras. Kemudian segera mengobrak-abrik isi mobilnya mencari handphone
yang tadi dia lemparkan begitu saja. Setelah ketemu segera ia menelphon sebuah
nomer.
“No,
gue butuh bantuan loe… ban mobil gue bocor, pak Agus lagi nganter oma keluar
kota”. Laki-laki berwajah tampan dengan kemeja hitam ditepi jalan itu tampak
gusar. Disandarkannya badan kemobil
sambil sesekali menyisir rambutnya dengan tangan.
“lah,
emang nggak ada tambal ban disitu?”. Jawab suara disebrang.
“yaelah
No, kalo ada gue nggak mungkin telpon loe… “. Laki-laki itu sekarang duduk di
kursi mobilnya, dibiarkannya pintu mobil terbuka agar kakinya bisa
bergelantungan diluar.
“oke..
gue kesana, jangan kemana-mana loe..”.
“gitu
dong sepupu gue.. gue tunggu”. Percakapan berakhir.
……………………………………………………….
Seorang laki-laki tampan dengan T-shirt
putih dan celana gunung turun dari motornya kemudian terburu-buru menghampiri
mobil hitam mewah didepannya.
“Juno,
akhirnya loe datang juga..”. ucap laki-laki disamping mobil gembira. Juno
tertawa melihat ban mobil sepupunya lagi-lagi bocor, dan ini sudah yang ke enam
kalinya.
“apes
banget loe Ren… enam kali ban mobil bocor… hahaha, kenapa ga panggil bengkel
aja sih??”. Kata Juno masih dengan tawa kecilnya.
“nggak
kepikiran gue… aaahh udah lah, terus
gimana ini mobil gue?, cape gue disini, mana tadi gue ketemu cewek gila
lagi ”. sungut laki-laki itu kesal.
“cewek
gila??”. Tanya Juno penasaran.
“iya”.
“wkwkwkwk…
bagus deh, siapa tau bisa jadi gantinya si Friska”. Juno mengeluarkan rokok,
menyalakan korek api dan mulai menghisapnya.
“gila
loe… “. Wajah itu kusut.
“bro,
loe itu Darren firman Hanggara, seharusnya loe bisa dong cari cewek yang lebih
daripada si Friska..”. Juno mulai serius. Dari awal dia tidak pernah suka
melihat Darren mengejar-ngejar Friska. Karena menurutnya masih banyak perempuan
yang jauh lebih baik dan menghargai pengorbanan Darren dari pada perempuan itu.
Friska terlalu penuntut. Darren hanya mengedikkan bahu.
“gue
ada temen bengkel, gue telpon…”. Juno memencet beberapa nomer di hanndphonenya
kemudian berbicara sebentar, setelah itu dia kembali ke arah Darren.
“gimana?”.
Tanya Darren cemas.
“tenang
aja… bentar lagi karyawannya datang “. Juno menatap wajah Darren, sudah
beberapa tahun mereka berpisah karena Darren melanjutkan sekolahnya di salah
satu perguruan tinggi di Singapore, tapi sepupunya itu tidak pernah berubah,
tetap dingin, tetap perfect dan satu lagi yang tidak pernah berubah… tetap
mengejar-ngejar Friska, perempuan yang dulu menjadi teman sekelas mereka.
“pernah
makan ceker?”. Tanya Juno pada sepupunya. Pemilik mata elang disampingnya
menatap heran.
“gila
loe, makanan apa itu?”. Darren semakin heran. Dari kecil Juno memang selalu
memiliki selera yang aneh-aneh. Sepupu
kecenya itu terkekeh.
“penasaran?,
ayok… biar loe tau rasanya”. Jawab Juno masih terkekeh. Dirangkulnya Darren
menuju motor.
“tunggu..
mobil gue gimana nih?”.
“udeeehh….
Tar lagi juga bengkelnya dateng, tempatnya deket kok.. ga sampe sekilo dari
sini..”. tawa Juno lebar. Darren sebenarnya ingin menolak, tapi seperti biasa..
dia tidak akan bisa. Dan dia akui, Cuma Juno dan Friska yang bisa membuatnya
seperti itu.
………………………………………………….
Ning stasiun balapan
Kuto solo sing dadi kenangan
Kowe karo aku
Naliko ngeterke lungamu
Kuto solo sing dadi kenangan
Kowe karo aku
Naliko ngeterke lungamu
Ning stasiun balapan
Rasane koyo wong kelangan
Kowe ninggal aku
Ra kroso netes eluh ning pipiku
Rasane koyo wong kelangan
Kowe ninggal aku
Ra kroso netes eluh ning pipiku
Alunan lagu stasiun balapan terdengar sayup- sayup
ditelinga Darren. Ia duduk sambil menyeruput teh hangat yang baru saja
disuguhkan padanya. Baru kali ini dia berada disebuah warung pinggir jalan tapi
hatinya sama sekali tidak risih. Mungkin karena warung itu terlihat mirip
seperti lesehan-lesehan disepanjang jalanan Yogja. Dilihatnya Juno sedang
mengobrol dengan ibu penjual ceker pedas sambil sesekali tertawa lepas,
kemudian menghapirinya dengan dua piring ceker pedas.
“siap??”.
Tanya Juno pada spupunya. Darren cengingisan melihat dua piring ceker
didepannya, kemudian menggaruk-garuk kepala ragu.
“nasinya
mana ?”.
“bentar
lagi dianter, sama calon cewek gue…hehehe.. “.
“what??,
calon cewek loe? Yang mana?”. Darren mengedarkan pandangan ke sekeliling
lesehan, berharap menemukan sosok perempuan dengan dandanan tebal dan baju mini
khas cewek-cewek Juno dari dulu, tapi nihil.
“mana
?, kok nggak ada?”. Tanya Darren lagi. Juno langsung melirik seorang gadis
berambut lurus sepinggang dengan rok selutut dan kaos putih pendek yang sedang
berjalan sambil menenteng dua piring nasi kearah mereka. Gadis itu terlihat
cantik dan sederhana.
“Ruby…
hehehe… cantik kan?”. Juno mengangkat-ngangkat alisnya percaya diri. Darren
terlihat heran, ia tidak mengerti apa yang membuat selera sepupunya itu berubah
drastis. Ia bahkan masih ingat kata-kata Juno beberapa tahun silam saat mereka
bertemu di Singapore.
“cewek,
nggak dandan… ga wangi, ga pake high heels, ga seksi itu membosankan… yang kayak
gini nih baru menantang..“. Katanya sambil memandangi seorang gadis dengan rok
mini, rambut blonde dan bibir merah merona yang baru saja turun dari mobil
sportnya. Saat itu Darren hanya menimpali kata-kata Juno dengan cengiran
khasnya. Karena menurut dia, perempuan itu semua sama, yang membedakan cuma caranya
memandang dan menyikapi sesuatu saja.
“permisi mas Juno, ini nasinya… “. Kata
Ruby dengan senyum yang dibuat semanis
mungkin. Maklum, dia memang sangat menyukai sahabat kakaknya tersebut. Menurut
Ruby Juno dan keluarganya itu berbeda dari orang-orang kaya yang pernah dia
kenal sebelumnya.
“dek Ruby, duduk disini sekalian aja… “. Tawar
Juno bersemangat. Ruby tersenyum lagi.
“maaf mas… masih mau bantuin ibu, soalnya lagi
rame.. “.
“loh, emang mbak Aby belum dateng yah?”.
“belum, hari ini lembur katanya mas… Ruby
tinggal dulu ya mas..”. pamit Ruby sedikit deg-deg an. Juno manggut-,manggut
tanda mengerti.
“siapa Aby No? kok loe kenal banget sih sama
orang-orang disini?”. Darren mulai penasaran. Juno cengengesan.
“cantik bro… loe mau gue kenalin?”. Tanya Juno
usil. Darren menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa ada yang aneh.
“nggak ah.. mau ngerjain gue yah loe?”.
“ya nggak lah Ren… Aby itu kakaknya Ruby,
sahabat gue ditempat kerja, tapi minggu kemaren dia dikeluarin gara-gara
telat.. “. Wajah Juno terlihat sedih.
“oh pantes loe kenal banget sama mereka”. Darren
mencomot ceker didepannya. Lama-lama dia penasaran juga gara-gara bau wangi
ceker berbumbu merah itu. Beberapa detik kemudian matanya membulat.” No..
ternyata enak juga yah nih ceker..”. sambungnya lagi antusias. Juno tertawa
kecil.
“apa gue bilang… gue aja ketagihan..hahaha”.
Juno menepuk dadanya bangga, kemudian melahap makanannya.
………………………………………………..






0 komentar:
Posting Komentar