Part 1
Aby, gadis berkulit putih dengan rambut
panjang sepinggang itu menyambar sepotong roti dari dalam kulkas sambil
membenarkan sepatunya. Rambutnya masih
acak acakan, tanpa ikat rambut, tanpa pita… ibunya melotot seketika melihat
kelakuan anak pertamanya itu.
“
ibuuuu… Aby berangkattt.. aby telatt “, teriaknya tanpa menoleh. Ibu geram, ia
berjalan cepat mengikuti aby kemudian….
“aaa…
aa.ampun bu… aduh sakit, aby buru-buru buuu… lepasin,..” rengek aby sambil
memegangi rambutnya. Seperti biasanya, ibu menarik rambut Aby sambil tetap
melotot.
“abyyyy..!!!,
ibu sudah bilang berapa kali sama kamu??, rapiin dulu rambutnya, baru
berangkat!!”. Omel ibu sebal kemudian mengambil kursi kayu disebelahnya, Aby
cengengesan melihat wajah seram ibunya. Ibu paling tidak suka melihat kedua
anaknya berambut acak acakan.
“
cepet duduk!”, perintah ibunya masih melotot. Ditangannya sudah ada sisir dan
beberapa karet rambut melingkar.
“tapi
bu… aby buru-buru..”, rengeknya pada ibu. Ibu tetap tidak perduli, ditekannya
kedua bahu aby agar gadis 24 tahun itu duduk diatas kursi yang telah diambilnya.
Dengan terpaksa aby menuruti. Dan dalam
waktu singkat rambut aby sudah tertata rapi dan berkilau. Ibu tersenyum lega,
ujung-ujung matanya bercahaya, mengagumi hasil karyanya sendiri. Seperti biasa,
setelah merapikan rambut anak gadisnya ia akan memegang sisir erat-erat sambil
membayangkan ada seorang pemuda kaya raya yang jatuh cinta pada aby.
Sementara itu, disisi lain aby berlari
sekencang-kencangnya sambil membayangkan tatapan tajam bu mirna pemilik
restoran tempatnya bekerja. Wanita
berbadan besar itu tidak mungkin membiarkannya lolos begitu saja setelah
berkali-kali aby datang terlambat. Dia tidak lagi mendengarkan teriakan ibu
yang menyuruhnya lebih berhati-hati agar tatanan rambutnya tidak rusak. Dia
harus segera sampai… Atau bu Mirna akan memecatnya hari ini juga, dan dia harus
mencari pekerjaan baru lagi.
“ibuuu..,
“ , suara manja gadis 17 tahun terdengar dari arah pintu. Ibu segera melambai-lambaikan tangannya menyuruh anak bungsunya duduk dikursi aby tadi.
“
hari ini mau dikuncir apa sayang?”, suara ibu halus.
“
seperti biasanya ajah, ruby udah hampir telat bu”
“oke…
siap bos!”, nada ibu terdengar tegas sperti prajurit. Kemudian mereka berdua
tertawa.
Aby anak pertama dari kedua bersaudara.
Dia lahir dari keluarga yang sangat ceria, ehm. Maksudnya, ibu dan adik aby
jarang sekali terlihat bersedih seberat apapun kehidupan mereka. Ibunya adalah
wanita yang sangat ramah. Dia gampang tersentuh dengan hal hal menyedihkan yang
didengar dan dilihatnya, dan dengan secepat kilat dia akan kembali bersemangat
setelah semuanya usai. Dia membesarkan ke dua anaknya sendiri dengan menerima
pesanan kue dari beberapa pelanggan setelah suaminya meninggal dunia karena
kecelakaan lalu lintas saat dia mengandung anak keduanya.
Adik Aby bernama Ruby, masih kelas 3 sma
dan lumayan terkenal disekolahnya karna
wajahnya yang cantik. Gadis cerewet itu sangat bangga sekali dengan ceker pedas
buatan ibunya dan tak henti-hentinya menawarkan jualan ceker pedasnya kepada teman-temannya,
tidak heran jika beberapa teman dan kenalannya akirnya menjadi langganan ceker
pedas. Berbeda dengan kakaknya, Ruby amat senang berdandan, dia sangat
memperhatikan penampilan dan kulitnya. Dia paling tidak suka berlama lama
dibawah sinar matahari karena takut terlihat hitam.
----------------------------------------------------------
Aby berdiri tegak ditengah dapur.
Disekelilingnya beberapa mata tampak curi-curi pandang, beberapa lagi tampak
menyayangkan. Tubuhnya hampir saja gemetaran, tapi dia tidak boleh terlihat
seperti itu. Ia berusaha keras agar terlihat tegar, dia tau dia yang salah.
Hari ini hari ke empatnya datang terlambat. Dan dia tau konsekuensi yang harus
dibayarnya.
“
kamu tau ini keberapa kalinya kamu terlambat??”. Tanya bu Mirna Tegas, tapi
wajahnya masih datar.
“iya
bu… maaf… “ jawab aby pelan. Beberapa rekan kerjanya geleng-geleng kepala,
mereka tau apa yang akan terjadi pada aby.
“
hari ini hari terakhir kamu kerja… sepulang kerja nanti, silahkan ke ruangan
saya untuk mengambil gaji terakhir kamu”. Tanpa babibu lagi bu mirna langsung
melangkah pergi menuju ruangannya. Aby yang berusaha menjelaskan tidak
didengarnya. Aby menghembuskan nafas panjang. Habis sudah… hari ini ia kehilangan pekerjaannya, padahal ia dan
keluarganya sangat membutuhkan uang.
Air matanya tiba-tiba menetes. Setelah
ini dia harus segera mencari pekerjaan baru!, tekatnya bulat. Dia tidak ingin
menangis terlalu lama, ibu dan adiknya tidak boleh tau kalau dia sudah tidak
bekerja lagi, mereka akan merasa sedih.
Diambilnya kain lap di sisi meja, kemudian aby mulai melap piring-piring dan beberapa
gelas didepannya dengan wajah murung. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk
pundaknya lembut.
“
ngapain loe nangis?”, Tanya seseorang bersuara berat itu, “ nangisnya
jangan lama-lama… tar gue bantuin cari kerjaan lagi”. Lanjut pemilik suara itu
sambil tersenyum, matanya terlihat sipit.
Aby monyong, curiga melihat wajah konyol sahabatnya.
“
bukannya gue nggak mau no.. tapi gue nggak percaya sama loe..” ucapnya pelan
sambil meneruskan pekerjaannya.
“wah
gila loe, gue ini sahabat loe.. ngapain gue boongin loe?”, protes laki laki itu
kesal. Ia satu satunya sahabat Aby, namanya Juno, Kulitnya putih, matanya sipit, rambutnya mirip banget sama rambut boyband
korea. Dulu, duluuu… sekali Aby sempat punya perasaan khusus terhadap laki-laki
ini, tapi segera ditepisnya. Dia cukup sadar kalau dia tidak mungkin bisa
bersaing dengan Ruby. Yah… Aby cukup faham jika adiknya menaruh hati pada Juno.
“yah
… paling nggak loe minta imbalan buat deketin loe sama adek gue.. iya kan??”,
jawab aby sewot. Juno cengengesan nggak jelas. Dia memang sudah lama ngefans
abis sama Ruby semenjak beberapa minggu yang lalu saat Ruby datang ke restoran
sambil membawakan ceker pedas untuk aby dan teman-temannya.
“
apa salahnya sih?, nggak rugi juga loe punya adek ipar kaya gue kan?”, juno
menyisir-nyisir rambutnya dengan jari-jari tangan sambil memasang tampang cool.
Aby tertawa ngakak melihat kelakuan sahabatnya, sekaligus ngeri membayangkan
adiknya berjodoh dengan Juno.
Juno memang tampan. sebenarnya
keluarganya kaya, bahkan kalau Juno mau pun, dia bisa membuat restoran sendiri
tanpa harus repot-repot bekerja disini. Tapi dia tidak mau, dia lebih suka
berkerja seperti ini. Setiap hari berangkat ketempat kerja dengan motornya,
bekerja sebagai pelayan restoran dan
berbaur dengan semua orang. Papa dan
mamanya sampai bingung dengan kelakuan anaknya. Mereka sempat meminta tolong
Aby untuk membujuk Juno agar laki- laki itu mau bekerja di perusahaan papanya,
tapi hasilnya nihil.
Aby masih ingat, pertama kali ia bertemu
dengan sahabatnya itu saat mendapat tugas membuang sampah di belakang restoran.
Karena melihat anjing, Aby berlari ke pojok gang sambil memeluk plastik sampah
ketakutan. Tanpa sadar ada laki laki berteriak- teriak kesakitan dibawahnya, Aby
kaget.. ternyata ia menginjak tangan Juno.
“maaf..maaf…”,
kata Aby takut. Wajah Juno terlihat kesakitan.
“gila
loe, loe pikir tangan gue keset???”, teriak juno sebal. Aby mendelik,
diletakkannya buntalan sampah ke lantai kasar.
“
gue nggak tau, nggak usah marah2 gitu dong..!”, seru Aby ikut-ikutan kesal.
“ya
wajar lah gue marah, loe nginjak tangan gue!”,
“tapi
gue nggak sengaja!”, aby masih sebal
“
yang datang duluan kesini siapa??”
“loe!”
“
yang lari-lari siapa??”
“gue!”
“
yang nginjak kaki gue siapa??”
“ya
gue lah..!!, apaan sih loe??”
“
berarti yang salah loe kan??”
“iya,
gue yang salah, tapi kenapa elo marah-marah gitu? Ngomong baik-baik kan lbih
enak!”, aby semakin kesal.
“
aneh loe!” Juno mendengus, kemudian membuang rokoknya.
“
loe yang aneh!!”,
“kenapa
loe lari-lari nggak jelas?”, Tanya Juno penasaran.
“gue
dikejar anjing”. Aby tampak malas menceritakan. Seketika itu juga wajah putih
juno memerah, dan tawanya pecah tanpa bisa dihentikan. Aby bingung, ditutupnya mulut juno agar suara
tawanya tidak terdengar nyaring tapi
sia-sia, laki laki itu tetap tertawa terbahak-bahak. Kemudian dia dapat ide, dan….
“brrruuuaakkk!!”.
Aby melemparkkan plastik berisi sampah
potongan sayuran itu ke wajah Juno. Seketika Juno terdiam. Aby takut dia tidak
bisa membayangkan bagaimana jika laki-laki itu marah padanya??, ulahnya sudah
keterlaluan. Secepat kilat ia melangkah pergi dari tempat itu, tapi Juno
menahan bahunya dari belakang
“
so..sorry… gue panik tadi..”. kata aby takut-takut.
“loe
lucu…. Wkwkwkwkwkw”. Tawa Juno pecah lagi. Aby yang melihat wajah juno
berantakan akhirnya tertawa juga. Beberapa saat kemudian ia mengulurkan
tangannya. “ gue Juno… seneng kenalan sama loe”, katanya sambil tersenyum.
------------------------------------------------
Tepat pukul 11.30 malam. Aby berjalan
pelan sambil menenteng tasnya tidak bersemangat. Pikirannya entah kemana, ini
hari yang amat melelahkan, mengesalkan dan menyedihkan menurutnya.
Tiba-tiba terbayang wajah ibu yang
sedang menangis dikamarnya beberapa hari yang lalu. Ia tau, ibu pasti sangat
sedih memikirkan rumah mereka. Rumahnya akan disita karena ulah om Narko adik
ibu yang beberapa bulan lalu datang dari Kalimantan. Seperti biasa, om narko
datang saat masalahnya bertumpuk, dan akan menghilang tiba-tiba saat dia senang
atau telah membuat masalah baru dirumah Aby.
Om narko menginap dirumah Aby selama dua
minggu. Dia bilang dia sedang ada banyak masalah di Kalimantan, dia dipecat dari pekerjaannya dan sudah tidak
memiliki biaya lagi untuk tinggal disana. Aby sudah menasihati ibunya agar
sedikit berhati-hati, karena bukan sekali dua kali om Narko membuat masalah saat ia datang kerumah. Tapi rupanya
jiwa ke-kakak-an ibu lebih besar dari pada kewaspadaannya. Mungkin karena ibu
anak pertama dan om Narko anak terakhir, apalagi jarak usia mereka terpaut
sangat jauh, sekitar sebelas tahunan. Jadi ibu merasa bertanggung jawab pada
adik terakhirnya itu.
Sampai suatu hari Aby pulang dari
restoran dan mendapati ibunya menangis diruang tamu ditemani Ruby, didepan
mereka ada dua orang laki-laki memakai setelan hitam dan seorang wanita 50 tahunan
memandangnya tajam. wanita itu berpakaian serba hitam, kulitnya mulus dengan bibir merah dan sangat mengkilat seperti telah diolesi minyak goreng.
“
ada apa bu?”. Tanya Aby penasaran. Ibu memandangnya sedih, Ruby terlihat
mengusap usap punggung ibu menenangkan.
“om
kamu udah gadein rumah ini sama saya, katanya sih lima bulan.. tapi ini udah
hampir lima bulan looh… om kamu dihubungi malah ga bisa.. gimana dong
enaknya??, bulan depan kalian pindah yaa… rumah ini saya ambil..”. suara
perempuan itu terdengar santai tanpa berdosa, kemudian membenarkan jambulnya dengan ibu jari.
“
tapi mana bisa gadein rumah tanpa surat tanah bu?? Om saya itu nggak punya
surat rumahnya loh… yang punya itu ibu saya”. Bantah aby tidak terima. Ibu
memandang putri pertamanya masih dengan menangis.
“
om kamu nyuri surat tanahnya by… ibu juga baru tau tadi waktu bu Sinta
kesini..”. kata ibu pelan. Bu Sinta tersenyum enteng.
“
kalo tanpa jaminan ya saya nggak mungkin
lah minjemin duit sebanyak itu….. “, ucapnya
sewot.
Aby
meremas jari-jarinya, ia bingung harus bagaimana?.
“Berapa
yang dipinjem om narko tante?”. Tanya Aby hati-hati.
“nggak
banyak sih… Cuma tiga puluh juta.. tapi saya yakin kamu ga bisa bayar kan??
Jadi lebih baik rumah ini aja yang saya ambil…gimana?”. Ucap bu Sinta lagi
sambil tersenyum. Dihati Aby benar benar mengutuk perbuatan om Narko. Bagaimana
mungkin dia bisa mencari uang sebanyak itu? Itu sama saja dengan gajinya dua
tahun setengah!.
“tante,
mana mungkin rumah ini Cuma dihargain 30 juta?, tolong tante… kasih Saya waktu,
saya janji pasti akan saya bayar..”. ucap Aby. Ia tidak mau rumah kenangan
ayahnya ini hilang begitu saja, gara-gara ulah omnya. Rumah ini sangat berharga
bagi aby dan keluarganya. Ia dibesarkan disana, dan banyak sekali
kenangan-kenangan bersama ayahnya didalam rumah itu.
Bu Sinta memandang Aby tajam, ia kaget
mendengar Aby berani berkata seperti itu. Apalagi ibu dan Ruby, seketika mereka
berdua melotot kaget. Bagaimana caranya aby bisa mengumpulkan uang sebanyak
itu??.
“Aby!,
kamu jangan main-main… duit segitu itu dapat darimana nak???, itu gaji kamu
berapa taun Aby!!” . tegas ibunya khawatir. Aby duduk disebelah ibunya,
kemudian mengelus telapak tangan ibunya.
“ Aby akan berusaha nyari bu… Aby ga mau keluar dari rumah ini… ini kenang-
kenangan ayah..”. kata Aby menenangkan ibunya. Ibunya hanya bisa meneteskan air
mata terharu.
“
oke… tiga bulan ya… bunganya 5% tiap bulan.. deal kan??, pinjaman saya paling
murah disini…. Ga bisa ditawar lagi looh…. Kalo nggak mau ya tinggal pindah
ajah dari sini, gimana??”. Ucap bu Sinta enteng. Dia menyeka keringat di
dahinya. “ aduuuh… panas banget yah disini??”, ucapnya lagi. Kedua bodyguardnya
cepat cepat mengambil kipas dan diserahkannya pada bu Sinta yang mulai beranjak
dari duduknya. Aby mengangguk tanda setuju, meskipun ia masih tidak terlalu
yakin dengan keputusannya.
Tak lama kemudian bu Sinta berjalan
keluar rumah diikuti bodyguardnya sambil sesekali mengelap keringat di dahinya
dengan tisu. “ehm… satu lagi, rumah kamu panas banget…. Coba dikasih AC deh… ups, kipas angin maksud saya…
biar nggak bikin gerah…”. Celetuknya di sebelah pagar rumah dengan nada manja. Aby yang
mengikutinya keluar asal mengangguk tidak bersemangat.
“
oke… selamat berjuang yah… hahaha “.
--------------------------------------------
“”no..no,
loe punya kerjaan nggak buat gue?, bokap loe kan kaya? Gue bisa dong loe
masukin disalah satu perusahaan bokap loe….. please no.. gue butuh duit banget…
loe tau sendiri kan, gue baru dipecat??”, Aby memelas, wajahnya keliatan lebay
banget waktu ngomong. Tiba-tiba…
“cekriieekkk..”,
suara pintu kamar dibuka. Kepala Ruby nongol dari balik pintu sambil celingukan
noleh kiri kanan. “ ngomong sama siapa
mbak??, udeh mulai gila yah mikirin utang?”, celetuk Ruby dengan wajah
culunnya. Aby cengengesan nggak jelas. Dari pagi dia sibuk mikirin gimana
caranya minta tolong sama juno, karena Cuma juno yang bisa bantu dapetin
pekerjaan cepet. Karena selain juno anak orang kaya, papa juno juga percaya
banget sama Aby.
Tapi… Aby juga ga mau dibilang manfaatin
keadaan. Mentang-mentang dia deket sama juno dia malah minta pekerjaan secara
instan.. hmmm…. Aby duduk diujung kasurnya lesu. Ruby yang melihat kakaknya
tidak bersemangat segera menghampirinya.
“
ada masalah sama kerjaan mbak?”. Tanya Ruby pelan. Aby menggeleng, ibu dan
adiknya belum tau kalau dia dipecat. Dia tidak ingin mereka khawatir.
“
nggak ada kok dek… mbak Cuma lagi capek ajah..”. jawab Aby sambil tersenyum.
“mbak
tenang ajah, Ruby juga bantuin ibu jualan ceker kok… kita pasti bisa mbak..!!,
hehehehe”.
Aby menatap adiknya iba. Semenjak ayah
meninggal, ibu bekerja keras untuk membiayai mereka berdua. Aby juga tidak
pernah tinggal diam, pagi sampai malam dia bekerja. Sepulang kerja dia selalu
mampir ke tempat ibu jualan, bantu-bantu ibu menutup lapaknya. Kemudian baru
istirahat.
“
yaudah, ayo tidur… udah malem”. Kata aby sambil mendorong-dorong Ruby keluar
kamarnya.
“mbaaakk…
ih… nggak usah dorong-dorong kenapa??”. Ruby berteriak sambil membalas dorongan
kakaknya. Aby tidak perduli, dia masih mendorong badan Ruby sampai mendekati
pintu.
“cepetan
keluaar…. Mbak udah ngantuk banget, kamu ngapain sih tiba-tiba masuk kamar
mbak?”. Kata Aby sewot. Ruby keluar kamar, kemudian menjulurkan lidahnya kearah
Aby.
“pantes
mbak nggak punya-punya cowok… kasar gitu, pasti cowok-cowok pada takut sama
mbak!”. Aby melotot, beberapa detik kemudian sebuah bantal melayang kearah Ruby
“buuggghh!!”
“aaawww…!!”,
Ruby melotot. “ibuuuuuu…!!!!” teriaknya manja. Takut ibunya keluar Aby
cepat-cepat menutup pintu kamarnya.
“hhhhh…
besok harus dapet kerja by!!”. Tekat aby bulat sambil memeluk bantalnya
erat-erat.
……………………………………






0 komentar:
Posting Komentar