Ranjau Paku vs Ranjau Cinta

Part 2
“kriiiiiiiinnnggggg…!!!”, suara jam beker tua aby terdengar begitu nyaring, gadis itu membuka satu matanya dibalik bantal, kemudian mengerjap-ngerjap aneh sambil memicingkan mata. Tepat pukul 7.00.
“apaaaa?????!!”, Aby berdiri kemudian berlari dengan gerakan super sempoyongan, beberapa kali menabrak meja, beberapa kali keliru masuk ( harusnya ke kamar mandi, jadi kekamar adik dan ibunya), beberapa kali dapat pandangan aneh dari adik dan ibunya. Sadar dia jadi pusat perhatian Aby langsung berhenti tepat didepan Ruby dan ibu.
“kok pada kayak gitu sih ngeliatinnya??”, celetuk Aby risih.
”ini lagi si Ruby, udah jam segini blum berangkat sekolah juga… kamu bolos???,  kok ga diomelin ajah sih bu?”. Omel Aby tanpa jedah. ibu geleng-geleng kepala diikuti cekikikan Ruby.
“mbak mau kemana hari minggu gini, heboh banget?, kerjanya mbak kan hari minggu libur…”, celetuk Ruby masih dengan cengengesan. Seketika mata Aby membulat kaget. Bodoh banget dia hari ini.
“gara-gara kelamaan mimpi tuuhh….”, celetuk Ruby lagi. Aby monyong. Yaah.. setidaknya Aby bisa keluar Rumah nyari kerjaan meskipun hari minggu. Waktunya udah nggak banyak lagi, dan dia harus  segera menemukan pekerjaan, apapun itu… yang penting halal.
“yaudah, Aby, cepet mandi!, libur kerja bukan berarti libur mandi juga kan??”, perintah ibu sambil mendorong tubuh anak pertamanya menuju kamar mandi. “hmmm… acem banget bau anak ibu?”, candanya sambil mencium badan Aby, Aby menghindar sambil cekikikan malu, mamanya selalu seperti itu meskipun ke dua anaknya sudah besar-besar.
Beberapa hari ini mama sedikit merasa aneh dengan Aby, ia tau anaknya menyimpan rahasia, tapi ia sama sekali tidak berani menanyakannya. Mungkin Aby butuh waktu untuk bercerita, dan dia mengerti itu.

                                    ……………………………………….

ibu duduk didepan kaca riasnya. Bibirnya bergetar menatap sebuah foto didepannya. Foto seorang  laki-laki paruh baya bersama istri dan kedua anak perempuannya. Foto itu adalah keluarganya beberapa tahun yang lalu, saat suaminya masih ada.
Air mata ibu mulai menetes, diambilnya bingkai foto itu sambil terus menatapnya  dalam-dalam. Ia tidak menyangka suaminya akan pergi begitu cepat dalam sebuah kecelakaan beberapa tahun silam.
Saat itu Aby  terlihat sangat terpukul sekali.  Dia mengurung diri didalam kamar hingga beberapa hari, tubuhnya terlihat kurus dengan kantong mata tebal. Aby memang sangat mengagumi sosok ayahnya, ia bangga memperkenalkan ayahnya pada semua temannya, ia juga tidak pernah betah berada jauh dari ayahnya terlalu lama.
Aby mencontoh semua kebiasaan-kebiasaan ayahnya setiap hari. Dari mulai jarang menyisir rambut sampai menyukai kopi hitam yang tidak terlalu manis. Ia akan melakukan gerakan-gerakan aneh didepan rumah setiap malam persis seperti yang diajarkan ayahnya setiap hari sebelum tidur. Kata ayahnya itu gerakan olah raga ciptaannya. Gerakan melingkarkan tangan keatas, kemudian meloncat-loncat kekiri dan kekanan. Selain itu dia akan melakukan kayang dan mengangkat salah satu kakinya bergantian. Suatu hari Ruby mengolokinya manusia karet, tapi Aby cuek, sedangkan ibu hanya tertawa.
Sepeninggal ayah, Abylah yang paling berjuang untuk kehidupan mereka. Saat menginjak usia 19 tahun, Aby rela meninggalkan kuliahnya di salah satu perguruan Tehnik terkenal di kota Bandung kemudian bekerja untuk menghidupi keluarganya. Aby juga yang mencarikan modal untuk ibu agar ibu bisa memulai usaha ceker pedasnya.
“ ibu…. “. Tiba- tiba Aby berdiri dibelakang ibu, buru-buru ibu menyeka air matanya kemudian memandang kearah Aby.
“ iya sayang, ada apa?”. Dilihatnya Aby sudah rapi, dan seperti biasa, gadisnya itu terlihat cantik meskipun tidak berdandan seperti gadis-gadis remaja lainnya. Aby memeluk ibunya dari belakang.
“ibu kangen ayah yah?, Aby juga… “. ibu tersenyum tulus, dibelainya rambut Aby sayang.
“ iya… nggak kerasa udah lama kita ditinggal ayah yah??, tapi ibu bahagia masih punya kalian”. Senyum ibu merekah. “ oh iya, kamu mau kemana?, kok cantik bener?”. Canda ibu. Aby terkekeh.
“ibu ada-ada aja.. tiap hari kan Aby emang cantik!, Cuma banyak ajah yang blum sadar”, katanya tegas kemudian kembali terkekeh diikuti tawa kecil mamanya. “ yaudah, Aby berangkat dulu yah bu.. ada janji sama Juno”.
“iya, ati-ati dijalan By.. ibu nitip mi goreng yah kalo pulang “. ibu mencium Aby dalam. Gadis itu mengacungkan jempolnya sambil mengedipkan sebelah mata kemudian berjalan keluar. Kali ini ibu sengaja tidak meneriaki model rambut Aby, ia tau anak pertamanya itu berbeda dengan adiknya, dan dia yakin suatu saat nanti Aby akan menjadi gadis yang hebat.
                                    ……………………………………………….
            Lantunan lagu mengalun dari sepasang airphone ditelinga Aby. Bibir Aby komat- kamit menirukan lagu itu dengan suara tidak jelas, kepalanya bergoyang keatas kebawah. Dia duduk  disebuah tangga jembatan penyeberangan yang sedang kosong sendirian dari beberapa waktu yang lalu. Sesekali tangannya mencoreti beberapa daftar lowongan pekerjaan dikolom Koran sesekali ia mengangkat tangan menghayati lagu yang sedang didengar dan dinyanyikannya.
Tidak jauh dari tempatnya duduk, disamping kiri jembatan seorang pemuda tampan dengan setelan mahal menendang ban mobilnya sebal. Ia mengambil handphone dari dalam saku kemudian menekan beberapa nomer disana, marah-marah kepada orang disebrang dan segera menutup telfon dengan wajah kusut. Bagaimana tidak?, hari ini adalah hari terpenting dalam hidupnya. Seorang gadis menunggunya disebuah restoran prancis beberapa kilometer dari sini, tapi mobilnya sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama.
Pemuda itu kembali menekan beberapa nomer di handphonenya, berharap mendapat jawaban cepat, tapi tidak ada jawaban. Dia berjanji datang tepat pukul 18.30 pada gadis itu, dan dia telah merencanakan semuanya dari jauh-jauh hari. Tapi karena ban mobilnya dua kali bocor, sampai jam 19.30 dia masih ditempat ini. Dengan cepat ia mengetik sebuah pesan kepada gadis itu.
Fris… kamu masih disitu kan?, tunggu bentar yah..
Masih tidak ada balasan, pemuda itu semakin sebal. bagaimana mungkin dalam satu setengah jam dia mengatakan bahwa ban mobilnya kembali bocor?. Diam-diam ia mengutuk ranjau paku yang sudah membuat semua rencananya berantakan. Dengan cepat ia membuka pintu mobilnya, kemudian mengambil sebuah buket bunga didalamnya, menutup kembali pintu mobilnya dan segera berlari mencari taksi.
Aby diam, tanpa sadar ia memperhatikan pemuda itu sudah cukup lama. Begitu mudahnya menjadi orang kaya, dia bahkan tidak sayang meninggalkan mobilnya dipinggir jalan. Toh nanti pasti ada orang suruhannya yang datang mengurus mobilnya dan membawanya pulang. Kalaupun ada barang-barang didalam mobil yang hilang tidak butuh waktu yang lama untuk menggantinya dengan yang baru.
Jedaarrrrr..!!!, suara petir menggelegar, dan gerimis mulai turun. Aby clingak –clinguk mengamati sekitar, petir juga mulai muncul. Suasana tiba- tiba terasa sedikit menyeramkan.
“yaelah… kenapa harus mendadak gerimis sih?, emang ga ada waktu lain apa??”. Sungut Aby kesal. Seharian ini dia keluar masuk beberapa tempat tapi masih belum juga menemukan pekerjaan. Rintik-rintik gerimis semakin kencang, dan sebagian baju Aby mulai basah. Aby segera menutupkan Koran diatas kepalanya dan mulai berlari mencari tempat yang lebih teduh.
“sini nak, neduh di warung ibu saja”, teriak seorang ibu lima puluh tahunan pada Aby. Aby segera berlari menghampiri warung tersebut kemudian mengusap-usap bajunya yang basah.
“dari mana nak, ko ujan-ujanan?”. Tanya ibu itu lagi sambil memberikan sebuah handuk kecil. Aby menerima handuk itu kemudian mengelapkannya di rambut.
“lagi cari kerja bu, tapi dari kemaren nggak dapat- dapat. Susah banget yah bu sekarang cari kerja?”. Aby terlihat murung. Dia tidak boleh menyerah meskipun kenyataannya memang susah. Ibu tadi tiba-tiba tersenyum ceria.
“kamu mau kerja apa nak?, kalau jadi pembantu rumah tangga mau ga?”. Kata ibu itu lagi masih terlihat ceria. Aby heran melihatnya tapi binary-binar semangat terlihat muncul dimatanya.
“mau bu, apa saja yang penting halal… ibu punya lowongan kerja buat saya?”. Tanya  Aby antusias. Ibu itu segera menyambut dengan anggukan mantap.
“kebetulan suami ibu supir, katanya dirumah majikannya sedang membutuhkan pelayan… rumahnya besar bangeeett nak, gajinya juga lumayan loh… kalo kamu mau nanti ibu bilang sama suami ibu, biar kamu dibawa kesana.. gimana? ”. Celoteh si ibu berseri-seri. Aby tertawa kecil, wajahnya terlihat begitu bahagia.
“iya bu… mau… saya mau..”. katanya sambil tersenyum lebar.
Alhamdulillah akhirnya Aby dapat kerjaan juga bu… “. Katanya dalam hati.
“oiya… nama kamu siapa nak? Nama ibu Aminah, panggil saja bu minah”. Kata ibu itu sambil menyerahkan segelas teh hangat. Aby menerimanya kemudian meminumnya perlahan.
“Abyan bu, panggil saja Aby”, jawabnya sambil tersenyum senang.
                                    ……………………………………………….

Sometimes tears say all there is to say
Sometime your first scars wont ever fade, away
Tried to break my heart
Well it's broke
Tried to hang me high
Well I'm choked
Wanted rain on me
Well I'm soaked
Soaked to the skin….
Lantunan lagu The end where I begin nya The script terdengar sayup- sayup dari dalam kamar Aby. Besok pagi-pagi sekali dia harus sudah berada di lapak bu Minah, pak Agus menunggunya disana tepat pukul enam pagi.
Aby menghembuskan nafas dalam-dalam sambil memeluk boneka Winnienya erat. Yang penting sekarang adalah dia punya pekerjaan tetap, untuk uang tambahannya dia akan memikirkannya sambil jalan. Dia benar-benar tidak ingin rumah ini jatuh ke tangan bu Sinta begitu saja akibat ulah omnya.
“hhhhhh…. Dasar om Narko!, awas ya… kalo ketemu gue bejek-bejek !!”. Aby mendengus, tangannya mengepal erat kemudian memukuli bonekanya gemas. Dia benar-benar sudah kehabisan kesabaran dengan tingkah laku omnya. Dihatinya om Narko Cuma sebagai pengganggu, orang yang suka merepotkan keluarganya, terutama ibunya.
“mbak… udah tidur blum?”. Seperti biasa, Ruby tiba-tiba saja nongol dibalik pintu. Aby menoleh sebentar.
“belum.. ada apa nyit?”. Aby memanggil adiknya dengan panggilan kecil. Dulu Ruby sering dipanggil nyit-nyit gara-gara nggak mau pisah sama sandal babynya sampai kelas dua SD. Sandal lucu dengan kepala rabbit dan bisa mengeluarkan suara nyiit saat diinjak itu selalu dibawanya kemana-mana. Tapi entah kenapa saat kelas tiga SD Ruby sama sekali tidak mau menyimpan sandal itu lagi.
“iiih… embak…. Jangan pannggil nyit-nyit lagi dong.. ruby kan udah gede..”. rengeknya sebal. Aby tertawa kecil.
“trus mau gue panggil apa nyit?? By? Kaya manggil nama gue sendiri dong??”.
“biasanya juga Rub.. ato Ruby.. dasar!!”. Ruby mencubit pipi kakaknya sampai memerah.
“awww… dek, jangan kenceng-kenceng kenapa nyubitnya.. emangnya ada apa sih masuk kamar mbak malem-malem?”. Aby penasaran. Ruby senyum-senyum ga jelas.
“mas Juno gimana kabar mbak??”. Tanya Ruby malu-malu. Hhhh… dasar si Ruby, kirain mau ngomong apa ternyata Cuma mau nanyain Juno. Aby tergelak seketika, sepertinya adik semata wayangnya itu mulai tertarik pada Juno. sebenarnya, dibalik tawa itu ada sedikit perasaan sakit dihati Aby, tapi segera ditepisnya.
“mbak… ditanyain kok malah ketawa sih?”. Ruby manyun, kemudian berdiri.
“cieee…ciiee… adek mbak lagi jatuh cinta nih kayanya??”. Goda Aby sambil mendorong-dorong Ruby, Ruby semakin malu dan cepat-cepat keluar dari kamar kakaknya.

                                    …………………………………………………..

Aby berdiri disebuah ruang tamu bergaya minimalis yang sangat luas. Seluruh ruangan dipenuhi warna putih dan hitam, beberapa ornament kayu juga tampak menghiasi ruangan tersebut. Disudut kiri ruangan terdapat kolam ikan kecil memanjang dengan dinding bebatuan yang sengaja dialiri air agar terkesan seperti air terjun mini. Beberapa bougenvile tertata rapi disebelahnya dan  terlihat berkilau karena pantulan sinar matahari dari atap kaca diatasnya. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam, ruangan ini sangat besar sekali, ia tidak yakin bisa membersihkan semuanya sendirian jika nanti ia benar-benar diterima sebagai pelayan disini.
Tiba-tiba pak Agus keluar dari dalam bersama seorang wanita berumur sekitar enam puluh tahunan yang masih terlihat cantik dan segar. Rambutnya pendek dengan baju berbahan sifon halus yang tampak sederhana tapi berkelas.
“Abyan yah?”, Tanya ibu tersebut sambil tersenyum dan mempersilahkan aby duduk. Aby segera duduk, wajahnya pucat karena gugup.
“iya bu” katanya sesopan mungkin. Pak Agus tampak tersenyum kecil layaknya seorang ayah kepada anaknya.
“nama lengkap kamu siapa?, bener nih mau kerja disini?”. Tanya ibu itu lagi meyakinkan. Bukan karena curiga, tapi sekedar lebih meyakinkan saja bahwa gadis cantik  didepannya itu benar-benar mau bekerja dirumahnya. Aby segera mengangguk mantap.
“nama saya Abyan maeni, saya benar-benar sedang membutuhkan pekerjaan untuk membantu orang tua saya bu “. Ucap Aby. Ibu itu tersenyum lembut kemudian mulai menjelaskkan pekerjaan Aby dan kondisi rumahnya.
“nama saya Alya Hanggara, panggil saja saya bu Alya…. “. Katanya lembut, kemudian mengajak Aby ke ruang paling belakang rumahnya. Sebuah dapur minimalis berukuran besar dan sangat rapi. Aby dipertemukan dengan mbak Ami yang bertugas sebagai juru masak dirumah besar itu, badannya bulat, terkesan menyeramkan, tapi dibalik itu semua mbak Ami adalah sosok yang ramah dan ceria. Ada mbak Saro yang berperawakan tinggi kurus, rambutnya kriting panjang dan hobby memakai bando Ala gypsi, ia bertugas membersihkan seluruh rumah, dan nanti Aby akan berbagi tugas dengan perempuan ini, karena mbak Saro kesulitan membersihkan rumah sebesar ini sendirian. Ada kang paidi yang bertugas sebagai sekuriti dan terakhir pak Agus yang jadi supir bu Alya.
            Aby senang sekali, karena ditempat kerjanya yang baru semua penghuninya ramah. Dia yakin bisa berteman baik dengan mereka. Satu lagi, Aby diijinkan untuk tidak menginap dirumah bu Alya, karena Aby menceritakan kepada bu  Alya dia harus membantu ibunya membuka dan menutup lapak setiap hari. Tapi satu yang membuatnya sedikit gusar, bu Alya tinggal bersama cucu semata wayangnya yang baru pulang dari Singapura, namanya Darren, dan menurut mbak Ami Darren sangat tidak  bersahabat.













  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar: